Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio

Wanita Muslim Amerika Pertama Pembawa bendera Olimpiade. Inilah Ibtihaj Muhammad, Atlet Anggar dari Amerika yang akan menjadi wanita Amerika Muslim pertama yang akan berkompetisi di Olimpiade. Dan hebatnya, dia tetap akan menggunakan Hijab di tiap-tiap pertandingan yang akan diikutinya.

Ibtihaj Muhammad, lahir dan beranjak dewasa di Mapplewood, New Jersey. Bapaknya seorang Detektif Narkotika sedang Ibunya adalah seorang guru di sebuah sekolah dengan kebutuhan khusus. Ibtihaj sejak kecil menekuni bermacam bidang olahraga dari tenis, bola voli, softball maupun lari cepat. “Di Keluarga saya. anda tidak punya pilihan untuk berlatih olah raga ataukah tidak”, katanya.
“Pilihannya adalah, olahraga apa yang kamu pilih untuk kamu sukai dan tekuni”. Filosofi di keluarganya, Atletik dikenalkan sejak kecil kepada anak-anak, 4 anak perempuan dan 1 anak laki-laki, guna menghadapi ancaman-ancaman dari luar yang bersifat diskriminatif.
Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio (4)

Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio

Ada dua hal diskriminasi yang didapatkan oleh keluarga Ibtihaj Muhammad. Diskriminasi ganda. Yaitu sebagai Afro-Amerika (warga negara ber kulit hitam) dan sebagai muslim. Ibu Ibtihaj, Inayah Muhammad mengatakan: “Saya seorang pendidik. Saya paham betapa pentingnya mendidik anak-anak supaya bisa menjadi bagian dari masyarakat. Olahraga membantu mereka terintegrasi dengan hal tersebut” Keluarga juga para penggemar akan ada diantara mereka, sehingga menghilangkan batas-batas diskriminasi tersebut.

Namun ada masalah dalam hal berpakaian Olah Raga buat Ibtihaj, sebagai seorang Muslim. Seragam tim olahraganya, tidak menutupi rambut dan badan secara menyeluruh. Sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Iman Ibtihaj, yaitu Islam. Alih-alih mengenakan celana pendek, Ibtihaj menggantinya dengan celana baggy saat bermain tenis dan lari, mengenakan baju panjang serta longgar dan legging saat berlatih voli dan selalu mengenakan penutup kepala alias Hijab disemua aktivitas olah raganya.

Perlakuan Diskrimatif sebagai Seorang Muslimah

Ibtihaj sering mendapatkan perlakuan tidak baik, baik berupa godaan usil maupun cenderung melecehkan, atas penampilan Islaminya saat berolah raga. Dan ketika berusia 12 tahun, Ibtihaj bersama ibunya melewati sebuah sekolah, dan melihat beberapa siwa SMA yang sedang berlatih sebuah Olah Raga yang asing buat dirinya.

“Saya tidak tahu itu (olah raga) apa” begitu Ibu Ibtihaj mengenang apa yang dikatakan Ibtihaj kecil kepada ibunya waktu itu. Kemudia Ibtihaj melanjutkan “Tapi saya tahu bagaimana cara mereka
berpakaian. Yang wanita mengenakan baju yang menutup seluruh tubuhnya dan helm yang menutupi rambut mereka”. Maka Ibtihaj mulai tertarik dengan Anggar dan berlatih, serta mulai ikut berkompetisi sejak usia 13 tahun.

“Aku tidak yakin aku jatuh cinta dengan hal itu pada awalnya,” katanya. “Tapi aku benar-benar berorientasi pada masa depanku. Sebab, ketika kita berasal dari dari keluarga besar, maka kita harus kreatif untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi”
Meski Ibtihaj telah menjadi bagian dari tim-SMA-nya yang telah memenangkan dua kejuaraan negara bagian, Dia masih tetap kesulitan untuk mendapatkan penerimaan publik atas dirinya, sebagai seorang Muslim dan Afro Amerika.
ibtijah-Muhammad-atlet-anggar-amerika
“Saat Saya masih remaja. Anggar adalah olah raga nya kaum kulit putih di New Jersey” kata Ibtihaj. “Tidak banyak orang seperti saya. Tidak ada panutan buat saya sebagai atlet anggar. Ketika saya berkompetisi di turnamen lokal, sering ada komentar tentang saya, sebagai prang hitam, atau sebagai orang Muslim. Ini menyakitkan”

Sewaktu kejadian 9/11, tanggal 11 September 2001, Ibtihaj sedang di ruang kelas bahasa Inggris SMA nya. Setelah menara kedua World Trade Center ambruk, guru-guru diperintahkan untuk mematikan televisi. Kakak laki-lakinya dan juga anak laki-laki Muslim lainnya dipindakan dari kelas mereka ke bagian lain dari sekolah. “Kami masih tidak tahu apa dan mengapa waktu itu,” katanya. “Malam itu, terjadi kepanikan di rumah saya.”

Ibunya bercerita, “9/11 berdampak pada semua orang Muslim. Anak-anak dikucilkan dan menjadi target tekanan. Orang berteriak padaku ketika aku melaju di jalan. ”

Untuk kuliah, Ibtihaj mengicar sepuluh universitas dengan program anggar yang bisa memberikan dukungan keuangan. Dia akhirnya mendapat beasiswa akademik parsial di Duke, di mana dia mengkhususkan diri pada Sabre (sebuah cabang yang dipertandikan dari olah raga Anggar) dan diberi
nama All-American Three Times.

Cedera pada tangan, ligamen sobek, membuatnya gagal dalam kualifikasi untuk tim Olimpiade 2012. Setelah sembuh dan memenangkan beberapa medali, termasuk medali perak di Piala Dunia anggar tahun 2013, dan medali mas di Kejuaraan Dunia Anggar di Rusia , pada tahun 2014. Maka di bulan Januari, ia memenuhi syarat untuk mengikuti Olimpiade tahun 2016 ini, di Rio de Janeiro. Dan Ibtihaj akan menjadi Atlet Muslim Amerika pertama yang berkompetisi di Olimpiade dengan mengenakan jilbab.

Karena sedikitnya pilihan pakaian yang bisa memenuhi kebutuhan Ibtihaj, sebagai seorang Muslim, telah membuatnya menjadi seorang pengusaha. Dua tahun lalu, bersama kedua saudara perempuanya ia meluncurkan Louella, sebuah clothing line yang namanya diambil dari nama Nenek buyutnya. Ia yang mendesain sedangkan saudara laki-lakinya yang menangani bagian produksi di Los Angeles.
Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio (2)
Pakaian tersebut, beberapa diantaranya diposting di akun Instagram Louella dengan mengenakan model, adalah campuran antara gaya yang elegan dengan hip yang longgar dan tunik dalam aneka warna lebih kaya warna dari skinny jeans. Pakaian koleksi Louella dijual Chico, sebuah market place fashion di Amerika. Di dalam katalog, beberapa wanita mengenakan jilbab, sedangkan yang lainnya tidak. Pada tahun 2015, Louella merilis sebuah kaos yang Ibtihaj sebut dengan “Kesederhanaan”, dibagian depan kaos tersebut tertulis dalam tinta emas sebuah motto “Everything Is Better in Hijab.”everything-is-better-in-hijab

Dengan segala prestasi yang telah diraihnya, namun tantangan terhadap keberadaanya sebagai Muslim masih juga belem mereda. “Saat sayaterbang untuk mengikuti kompetisi domestik,” kata Ibtihaj, “T.S.A. agen di bandara berbicara kepada saya dengan cara merendahkan, seolah-olah saya orang asing, karena saya memakai jilbab: ‘ ‘Do—you—speak—English?’

“Bagaimana orang-orang seperti ini masih ada?” Tanya Ibtihaj. Sebuah pertanyaan yang lebih mengarah kepada ketidak percayaaan daripada rasa marah. “Saya wanita produktif, berpendidikan, dan mewakili negara saya di Olimpiade, tapi mereka mempertanyakan siapa saya dan darimana saya berasal.”
Dia melanjutkan, “Orang-orang selalu menghindari kontak mata dengan saya.
Bayangkan anda berjalan ke sebuah ruangan dan seseorang dengan sengaja menghindar untuk melihat anda. Sebagai minoritas agama dan etnis, saya tidak pernah tahu apa persoalan yang sebenarnya. Ini terjadi sepanjang waktu. Ini semacam kebiasaan yang telah menjadi norma. ”

Sebuah web site resmi tim olimpiade Amerika Serikat : U.S.A Team. punya halaman yang khusus didekasikan untuk Ibtihaj, tercatat pada web tersebut lalau Ibtihaj telah meraih tujuh medali di ajang Piala Dunia. Pada bagian komentarnya, seorang wanita menuliskan kata-kata kebencian terhadap Ibtihaj. Sebagai seorang wanita Muslim yang menjijikkan, dan tidak pantas dibanggakan oleh warga Amerika.
Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio
Tahun 2015 terjadi serangan di Paris dan di San Bernardino, sebuah serangan yang diduga terinspirasi oleh ISIS, membuat tensi kebencian terhadap Muslim meninggi. Kejahatan kebencian, baik besar maupun kecil, naik tiga kali lipat dalam waktu satu bulan di San Bernardino. Sopir taksi, seorang Muslim, ditembak di Pittsburgh. Masjid dibakar. Seorang wanita Muslim yang menghadiri pertemuan kota di West Bloomfield, Michigan, dicemooh sebagai “teroris, pemerkosa, pembunuh, dan pencemooh,” katanya, “dan bagian terburuk adalah bahwa sekitar sembilan puluh persen dari orang-orang bersorak.”

Islamic Center di Omaha dirusak untuk keempat kalinya. Di Bronx, tiga anak laki-laki memukul seorang gadis kelas enam dan melepas jilbabnya. Di Queens, seorang pemilik toko Muslim dipukuli oleh seorang pria yang acapkali mengomel anti-Islam.
Di South Salt Lake, Utah, sebuah lambang Islam di semprot cat di sebuah toko kue milik seorang Muslim. Pada bulan Februari, Pew Research Center melaporkan bahwa satu dari empat orang Amerika yang disurvei percaya bahwa sekurangnya setengah Muslim di Amerika Serikat, sekarang ada 3,3 juta Muslim di Amerika, adalah Anti Amerika. Dan satu dari sepuluh orang yang disurvei beranggapan bahwa semua Muslim yang tinggal di Amerika Serikat adalah orang yang Anti Amerika.

“Saya tidak bisa berjalan-jalan saat malam sendirian lagi atau pergi melihat teman-teman di malam hari,” kata Ibtihaj. Sebagai seorang Afrika-Amerika, dia takut untuk meminta bantuan kepada pihak berwenang jika terjadi sesuatu. “Kami hidup pada masa yang benar-benar gila, saat banyak minoritas takut untuk memanggil polisi,” katanya. Bulan lalu, dia dengan kelompok dilecehkan oleh orang-orang di sebuah restoran pizza, ada polisi berdiri di dekatnya. “Saya terkejut bahwa Polisi itu tidak mengatakan apa-apa pada orang-orang tersebut, bahkan sekedar bilang ‘Jangan ganggu mereka.” Aku pikir dalam hati,’Maaf, Pak Polisi,’ aku takut kejadian itu mungkin akan meningkat lebih berbahaya. Jadi saya tidak mengatakan apa-apa. ”

Ketegangan semakin meningkat setelah Donald Trump menyerukan larangan total bagi Muslim untuk masuk Amerika. Dua hari setelah pidatonya, Ibtihaj menulis di halaman Facebook-nya, “Jangan biarkan kesalahpahaman orang lain tentang ras, jenis kelamin atau agama menghalangi Anda dalam mencapai tujuan Anda. Ibtihaj juga tweet seperti ini “Friends don’t let friends like Trump.”
Pada sebuah wawancara online dengan AOL Build, Ibtihaj berkata, “Saya punya kewajiban, baik sebagai minoritas juga sebagai bagian dari komunitas Muslim untuk menggunakan posisi saya dalam berbicara melawan kefanatikan dan kebencian. ”

Pada tahun 1957, Presiden Dwight Eisenhower mendedikasikan Islamic Center di Washington, DC, dan bersumpah bahwa umat Islam dipersilakan berada di Amerika “di bawah Konstitusi Amerika dan di dalam hati oramg-orang Amerika. . . seperti menyambut sebagai agama lain. “Enam hari setelah serangan 11 September 2001, Presiden George W. Bush mengunjungi Islamic Centre dan menyatakan,” Wanita yang menutupi kepala mereka di negeri ini harus merasa nyaman pergi ke luar rumah mereka. Ibu yang memakai penutup tidak boleh terintimidasi di Amerika. Itu bukan Amerika yang saya tahu.

“Sampai saat ini, Presiden Barack Obama terlihat menjauh dari gerakan besar terhadap komunitas Muslim Amerika. Sebab Sebuah jajak pendapat CNN Opinion Research September lalu menemukan bahwa empat puluh tiga persen dari Partai Republik, dua puluh sembilan persen dari independen, dan lima belas persen dari Demokrat benar-benar percaya bahwa Obama, meskipun mengaku Kristen, sebenarnya adalah seorang Muslim.

Tetapi pada bulan Februari Presiden berbicara di Masyarakat Islam Baltimore, dan mengundang sepuluh Muslim terkemuka untuk bertemu dengan dia selama satu jam setengah sebelum pidato. Kelompok ini termasuk dokter bedah jantung, seorang senior di Yale, seorang pengacara California, pemimpin organisasi nirlaba, dua imam, dan Ibtihaj Muhammad. Ibtihaj mengatakan bahwa mereka semua berbicara terus terang tentang prasangka yang mereka hadapi. Presiden mendengarkan dengan seksama. Dalam sambutannya, Presiden menunjukkan peranan warga Muslim
dalam membangun Amerika, berawal dari para budak yang dibawa dari Afrika pada masa kolonial yang juga membawa iman mereka. “Thomas Jefferson menjelaskan bahwa Virginia Statute for Religious Freedom yang ia tulis dan rancang adalah untuk melindungi semua agama dan saya mengutip Thomas Jefferson sekarang- ‘Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi, Kristen dan beragama Islam, ‘” kata Obama. Jefferson dan John Adams memiliki Qur’an; Benjamin Franklin menawarkan mimbar jika Mufti Konstantinopel akan mengirim misionaris untuk berkhotbah.
Ibtihaj Atlet Muslim Amerika ber Hijab di Olimpiade Rio (3)
“Orang-orang Muslim Amerika bekerja pada jalur perakitan Henry Ford, untuk memproduksi mobil. Muslim Amerika merancang gedung pencakar langit dari Chicago, “kata Obama. “Beberapa sisanya di Arlington National Cemetery.” Dia melanjutkan, “Kami tidak bisa hanya sebagai pengamat saat berhadapan dengan bigot fanatik. Maka bersama-sama, kita harus menunjukkan bahwa Amerika benar-benar melindungi semua agama. ”

Pada satu titik dalam pidatonya, Obama menyebutkan beberapa atlet Muslim Amerika terkemuka seperti Muhammad Ali, Kareem Abdul-Jabbar, Hakeem Olajuwon. “Dan, omong-omong,” tambahnya, “ketika Team USA pawai untuk Olimpiade yang akan datang, salah satu orang Amerika melambaikan merah, putih, dan biru akan menjadi juara anggar, mengenakan jilbab: Ibtihaj Muhammad, yang ada di sini hari ini . Aku mengatakan padanya untuk membawa pulang emas. “Kemudian Presiden menatap dia di hadapan penonton dan berkata, tersenyum, “Bukan untuk memberi tekanan kepada anda”.